A Backyard Garden Story

Acrylic, Spray Acrylic on Canvas 

120 x 120 cm

2026

SOLD OUT

Scroll to see the story about this art

Kami duduk berhadapan, entah sejak kapan.

“Kenapa sih karyamu selalu gelap?” katanya sambil menyandarkan punggung.

“Coba sesekali bikin yang manis-manis. Jangan yang serem-serem terus, dong.”


Aku tersenyum. Pertanyaan itu terdengar akrab, seperti pernah kudengar berkali-kali.

“Manis itu relatif,” jawabku. “Kadang yang terlihat lembut justru lahir dari cerita yang pahit. Yang tampak tenang, bisa saja berasal dari ketakutan. Manis sering muncul dari keironian, dari sesuatu yang hampir runtuh tapi memilih berdiri.”


Dia mengernyit, lalu tertawa kecil. “Kamu kebanyakan mikir.”

“Mungkin,” kataku. “Tapi aku percaya, warna cerah bisa menutupi luka, seperti senyum yang menyembunyikan tangis. Bukankah itu juga manis?”


Kami terdiam. Di hadapan kami, aku melihat ikan-ikan molly berenang berputar di kolam kecil di teras rumah. Oranye, hitam, putih. Mereka tampak damai, saling berkejaran.


Aku menatap pantulan wajah di kaca kolam. Saat itu aku sadar, tak ada siapa-siapa di depanku. Suara tadi, tawa kecil itu, semuanya milikku sendiri.


Ikan-ikan molly tetap berenang, manis dan sederhana.


Aku tersenyum. Bahkan yang manis pun, kadang, lahir dari percakapan yang paling sunyi.


🌿
 🌱
🐡