Acrylic, Spray Acrylic on Canvas
28 x 35 cm
2026
Available
Musim hujan membuat halaman rumahku tak pernah benar-benar bersih. Dua minggu lalu rumput dan semak dibabat, namun seminggu kemudian tumbuh lagi setinggi lutut. Aku lelah. Siang itu racun rumput sudah kusiapkan. Niatku sederhana: memutus hidup sampai ke akar.
Sebelum semprotan pertama, seorang kakek kurus datang bersepeda ontel. Capingnya meneduh, karung dan arit tergantung di setang. Dengan bahasa Jawa halus, ia bertanya apakah rumput di halamanku boleh dipotong sedikit, untuk makan enam anak kambingnya.
Aku menyembunyikan botol racun. “Monggo,” kataku.
Ia lalu menunjuk bayam liar yang tumbuh di sela-sela semak. “Kalau ini, boleh juga?” tanyanya lagi, tetap halus.
Tentu saja boleh.
Kami berbincang sebentar. Rumahnya tiga jam bersepeda dari sini. Aku terdiam. Rumput yang ingin kumatikan ternyata sedang menunggu mulut-mulut kecil di tempat lain.
Aku berdiri di halaman yang sama, memandangi bekas sabitan. Untuk pertama kalinya, halaman itu terasa tidak liar, hanya sedang hidup dengan caranya sendiri.