Available
60 x 40 cm
Acrylic, Spray Acrylic on Canvas
2026
Tiap hari ada saja berita tentang program makan bergizi gratis. Menunya aneh lah, sistemnya kacau lah. Anggaran yang besar lah. Sampai kadang terasa lucu.
Tapi setiap membaca berita itu, aku selalu teringat sesuatu.
Waktu kelas 2 SMP aku pindah sekolah, dari kampung di Tulungagung ke Jakarta. Uang saku cuma cukup untuk ongkos pulang pergi, jadi hampir setiap hari aku membawa bekal dari rumah.
Kupikir itu hal biasa. Ternyata tidak. Karena membawa bekal, di sekolah baru aku sering dibully. Dibilang anak kampung, dan macam-macam. Waktu itu aku sedih, tapi aku juga tahu mereka mungkin tidak pernah merasakan berada di posisi seperti itu. Anak yang benar-benar pernah lapar di sekolah.
Untungnya ada juga beberapa teman yang kemudian malah ikut membawa bekal. Kami makan bersama saat jam istirahat.
Kadang aku berpikir, kalau program makan
gratis seperti ini sudah ada waktu itu, mungkin aku tidak perlu membawa bekal sendirian.
Jadi buatku program ini justru bisa sangat berarti bagi anak-anak (terutama yang culun seperti aku dulu). 😅
Yang sering terasa kacau hanyalah cara orang-orang dewasa mengatur dan menjalankannya.
. 🍱
. 🍠
. 🍽