SOLD OUT
120 x 140 cm
Acrylic, Spray Acrylic on Canvas
2025
Karya ini menampilkan permukaan bertekstur yang terdiri dari jejak daun, karang, dan bentuk-bentuk alami yang disusun menyerupai fragmen peta. Melalui pendekatan relief dan warna hitam pekat, Archipelago menghadirkan kesan arkeologis tentang alam kepulauan, sebuah catatan visual tentang bagaimana kehidupan, waktu, dan bumi saling menorehkan bentuk satu sama lain.
“Archipelago” adalah perenungan atas ingatan ekologis yang tertinggal di tubuh bumi. Melalui relief daun, cangkang, dan fragmen organik yang tertanam dalam permukaan kanvas, karya ini merekam jejak kehidupan yang pernah hadir lalu membeku dalam waktu. Seperti gugusan pulau yang lahir dari letusan dan pergeseran bumi, tiap bentuk di permukaan menjadi simbol dari keterhubungan yang rapuh antara daratan, laut, dan makhluk hidup. Hitam monokrom menjadi ruang sunyi di mana ingatan alam disublimkan antara yang tumbuh dan yang punah, antara sejarah dan arkeologi tubuh.
Sebelum semprotan pertama, seorang kakek kurus datang bersepeda ontel. Capingnya meneduh, karung dan arit tergantung di setang. Dengan bahasa Jawa halus, ia bertanya apakah rumput di halamanku boleh dipotong sedikit, untuk makan enam anak kambingnya.
Aku menyembunyikan botol racun.
“Monggo,” kataku.
Ia lalu menunjuk bayam liar yang tumbuh di sela-sela semak. “Kalau ini, boleh juga?” tanyanya lagi, tetap halus.
Tentu saja boleh.
Kami berbincang sebentar. Rumahnya tiga jam bersepeda dari sini. Aku terdiam. Rumput yang ingin kumatikan ternyata sedang menunggu mulut-mulut kecil di tempat lain.
Aku berdiri di halaman yang sama, memandangi bekas sabitan. Untuk pertama kalinya, halaman itu terasa tidak liar, hanya sedang hidup dengan caranya sendiri.